Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2015

Perkembangan Emosi Anak Berdasarkan Fase-fase Perkembangan


Perkembangan emosi pada anak akan mengikuti perkembangan usia kronologisnya. Artinya bahwa, perkembangan emosi pada anak selalu mengikuti dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan pertambahan usianya. Perkembangan emosi pada anak bayi akan terus berkembang hingga anak menjadi remaja, dan terus berkembang menjadi dewasa.
Di bawah ini akan diberikan ilustrasi perkembang emosi pada anak mulai dari bayi, hingga memasuki usia remaja. Perkembangan emosi pada anak akan di bagi menjadi beberapa fase dibawah ini:
Perkembangan Emosi Pada Anak Bayi Hingga Usia 18 Bulan
  1. Pada fase ini, bayi butuh belajar dan mengetahui bahwa lingkungan di sekitarnya aman dan familier. Perlakuan yang diterima pada fase ini berperan dalam membentuk rasa percaya diri, cara pandangnya terhadap orang lain serta interaksi dengan orang lain. Contoh ibu yang memberikan ASI secara teratur memberikan rasa aman pada bayi.
  2. Pada minggu ketiga atau keempat bayi mulai tersenyum jika ia merasa nyaman dan tenang. Minggu ke delapan ia mulai tersenyum jika melihat wajah dan suara orang di sekitarnya.
  3. Pada bulan keempat sampai kedelapan bayi mulai belajar mengekspresikan emosi seperti gembira, terkejut, marah dan takut. Pada bulan ke-12 sampai 15, ketergantungan bayi pada orang yang merawatnya akan semakin besar. Ia akan gelisah jika ia dihampiri orang asing yang belum dikenalnya. Pada umur 18 bulan bayi mulai mengamati dan meniru reaksi emosi yang di tunjukan orang- orang yang berada di sekitar dalam merespon kejadian tertentu.
Perkembangan Emosi pada Anak Usia 18 bulan sampai 3 tahun
  1. Pada fase ini, anak mulai mencari-cari aturan dan batasan yang berlaku di lingkungannya. Ia mulai melihat akibat perilaku dan perbuatannya yang akan banyak mempengaruhi perasaan dalam menyikapi posisinya di lingkungan. Fase ini anak belajar membedakan cara benar dan salah dalam mewujudkan keinginannya.
  2. Pada anak usia dua tahun belum mampu menggunakan banyak kata untuk mengekspresikan emosinya. Namun ia akan memahami keterkaitan ekspresi wajah dengan emosi dan perasaan. Pada fase ini orang tua dapat membantu anak mengekspresikan emosi dengan bahasa verbal. Caranya orang tua menerjemahkan mimik dan ekspresi wajah dengan bahasa verbal.
  3. Pada usia antara 2 sampai 3 tahun anak mulai mampu mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Anak mulai beradaptasi dengan kegagalan, anak mulai mengendalikan prilaku dan menguasai diri.
Perkembangan Emosi pada Anak Usia antara 3 sampai 5 tahun
  1. Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan anak lain, bergurau dan melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
  2. Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu peristiwa bisa menimbulkan reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang. Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang kalah akan sedih.
Perkembangan Emosi pada Anak Usia antara 5 sampai 12 tahun
  1. Pada usia 5-6 anak mulai mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan dan rahasia. Anak mulai mampu menjaga rahasia. Ini adalah keterampilan yang menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasi- informasi secara.
  2. Anak usia 7-8 tahun perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan orang lain.
  3. Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negatif seperti takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol (Suriadi & Yuliani, 2006).
  4. Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.
Pembagian perkembangan emosi pada anak diatas menjadi beberapa fase, dimaksudkan untuk mengetahui fase-fase perbedaan emosi anak dari bayi hingga menjelang usia remaja. Emosi pada masa bayi misalnya masih sangat primitif, hingga berkembang menjadi sangat kompleks pada usia remaja. 
 
Sumber : disini


Selasa, 02 April 2013

6 Sayuran Baik Untuk Bayi


6 Sayuran Baik Untuk Bayi Ayahbunda.co.id

Agar bayi lebih bersahabat dengan sayur, selepas masa ASI ekslusif 6 bulan, kenalkan sayuran dulu sebelum buah-buahan. Sumber vitamin dan mineral yang rasanya hambar ini akan terekam dalam memori bayi. Bila dia diberi buah yang rasanya manis terlebih dahulu, umumnya akan menolak sayur yang diberikan belakangan. Inilah sayuran yang umum diberikan untuk bayi usia 6-12 bulan.
  • Seledri. Sayuran ini umumnya digunakan sebagai penambah cita rasa makanan, misalnya saat membuat sup. Namun, tak salahnya jika Anda menjadikannya sebagai campuran bubur atau nasi tim bayi. walau digunakan sebagai penambah cita rasa, seledri mengandung kalsium dan fosfor yang lumayan. Dalam 100 gram seledri terdapat 50 miligram kalsium, dan fosfor 40 miligram.
  • Bayam. Sayuran berwarna hijau ini mengandung vitamin A (dalam bentuk betakaroten) yang tinggi, yakni 1872 mikrogram/100 gram. Selain itu, bayam juga kaya vitamin B, vitamin C, asam folat, serta mineral kalsium, fosfor, mangan dan zat besi. Bayam juga sangat penting untuk pembentukan otak bayi. bayam merah juga sumber vitamin dan mineral  terutama kalsium. Dalam 100 gram bayam merah, terdapat 368 miligram kalsium. Selain itu, bayam merah juga kaya akan fosfor dan zat besi, serta vitamin A,B1 (tiamin) dan C.
  • Labu siam. Kaya akan fosfor dan kalsium. Dalam 100 gram labu siam mengandung 25 miligram fosfor dan 14 miligram kalsium.
  • Wortel. Manjur buat kesehatan mata karena vitamin A-nya yang lumayan tinggi, yaitu sekitar 3600 mikrogram dalam 100 gram wortel.
  • Brokoli. Kaya kalsium dan asam folat. Dalam 100 gram brokoli yang dimasak, terkandung 56 mikrogram asam folat dan 88 miligram kalsium. Hanya saja karena bentuknya yang agak keras, maka brokoli harus benar-benar lunak dan dilumatkan saat disajikan untuk bayi.
  • Tomat. Mengandung vitamin C yang cukup banyak, yakni 40 miligram dalam 100 gram tomat. Selain itu, tomat juga mengandung suatu sat yang disebut likopen. Zat yang memberi warna merah pada buah tomat ini bersifat antioksidan.


Sumber bacaan : disini


Rabu, 13 Maret 2013

Mengatasi Dahak Pada Bayi

Bayi, batita atau balita sangat rentan terkena penyakit. Kita sudah menjaganya, tapi yang namanya penyakit itu tidak pilih-pilih mau hinggap dimana.
Pernahkah anak-anak Anda berdahak? Bagaimana cara mengatasi dahak pada bayi atau batita?

Slem atau dahak yang menyangkut di tenggorokan bayi membuatnya tidak nyaman karena menghalangi nafas, membuat tangisannya jadi parau dan menyulitkannya menelan ASI. Terlebih bayi yang baru bisa menangis, belum bisa bicara dan menunjukkan sebelah mana yang sakit, tentu kita harus tahu dan segera bisa mengambil tindakan untuk mengurangi rasa sakitnya.
Berikut ini tips untuk mengecerkan dan mengeluarkan dahak pada si kecil.

Tips mengencerkan dahak:
1. Menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi (kira-kira pukul 07.00 – 08.00) selama 10 menit.
Sesuaikan dengan tempat tinggal Anda, misalnya seperti saat sekarang ini di Qatar yang memasuki musim panas, tentu jam 07.00 udah terasa panas. 
2. Dengan cara lain, mengoleskan balsem bayi ke dada dan punggungnya. Atau, teteskan minyak kayu putih ke dalam baskom berisi air hangat, letakkan di dekat bayi agar terhirup uapnya.
3. Tetap memberi bayi ASI. Jika ia sudah mendapat makanan tambahan, berilah air putih hangat, sari buah atau sup/kaldu hangat. Pada intinya, mengkonsumsi banyak cairan merupakan terapi sederhana untuk mengencerkan dahak dan membersihkan tenggorokan.
4. Memberi bayi ramuan tradisional air jeruk nipis dicampur kecap atau madu, berikan 1 sendok teh, 3-4 kali sehari. Tapi berhati-hatilah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak Anda.

Tips mengeluarkan dahak:
1. Setelah dahak diencerkan, tengkurapkan bayi di pangkuan Anda (posisi Anda duduk tegak, bersandar). Letakkan satu kaki Anda lebih tinggi dari kaki lainnya sehingga posisi tubuh bayi miring dengan bagian kepala lebih rendah. Tepuk-tepuk lembut punggung bayi. Dahak yang encer akan turun dan keluar dari tenggorokan.
2. Jika tidak dengan cara di atas, dahak yang tertelan bayi dapat keluar dengan sendirinya lewat feses (kotoran), air seni dan air ludah. Atau, keluar manakala bayi bersin dan muntah.

Dahak bening, kuning atau hijau.
Dahak (mucus) adalah cairan kental yang diproduksi oleh saluran nafas sebagai perlawanan tubuh dari masuknya “benda asing” berupa bakteri, virus atau penyebab alergi (debu, asap, udara dingin, dan lain-lain). Hal itu merupakan reaksi alamiah tubuh. Dahak yang “normal” berwarna jernih/bening, agak kental dan jumlahnya sedikit. Waspada bila warnanya berubah kuning atau hijau, karena merupakan pertanda terjadinya infeksi. Untuk mengobatinya, bawalah bayi ke dokter.

Mudah-mudahan bermanfaat!


Sumber artikel : disini